*WARNING : The following text is not intended to incite hate or disagreement of any kind, purely reflectionist.*
Melihat trend masa kini, banyak temen” gw di kampus yang *maaf* jadi ga jelas agamanya. KTP agama tertentu, tapi ga ngeyakinin agama itu. Era keterbukaan dan globalisasi bikin orang jadi mempertanyakan semua hal, termasuk agama.
Bukan hal baru sih, tapi fenomena yang gw liat, skarang mulai ngetrend orang” yang jadi agnostik. Tidak yakin lagi kalo agama mereka yang paling benar, tapi tidak berusaha untuk memeluk agama lain. Agnostik dalam artian bahwa mereka ga yakin Tuhan dapat ditalar sepenuhnya oleh mereka (yang berarti institusionalisasi agama) .
Perbincangan dengan salah satu temen gw yg agnostik menunjukkan bahwa dia percaya, agama cuma dijadiin alesan orang untuk berbuat baik. Agama cuma dijadiin tameng untuk justification (pembenaran) bagi kaum tertentu untuk menindas, merusak, membunuh orang lain. Maka dia memilih untuk tidak beragama, dengan keyakinan bahwa dia berbuat baik karena memang seharusnya dia berbuat baik. Tuhan tidak bisa ditalar oleh otak manusia, sehingga wujud Tuhan tidak akan pernah bisa dipahami.
Betul bahwa agama kadang disalahgunain, tapi apa lantas kita jadi apatis terhadap agama? Masih perlu ga sih sebenernya agama? Apa cukup kita berbuat baik hanya berdasarkan moral manusia yang universal?
Agama adalah buatan manusia. Betulkah? Ga sepenuhnya. Coba kita liat. Kalau kita percaya adanya Tuhan (yang berarti kita bukan ateis) , harusnya kita percaya juga kalo Tuhan punya maksud” tertentu buat makhluk-Nya. Atas dasar itu Tuhan membuat hukum untuk dipatuhi manusia. Hukum ini diturunkan oleh Tuhan melalui Nabi dan Rasul. Nabi dan Rasul ini menyampaikan kepada umatnya. Umat ini terkadang membuat interpretasi sendiri atas hukum Tuhan. Interpretasi inilah yang disebut agama. Jadi institusionalisasi agama bukanlah perbuatan Tuhan, melainkan manusia itu sendiri. Tuhan hanya menetapkan hukum-Nya. Kita yang milih buat gimana ngejalaninnya.
Nah, berangkat dari sini, menurut gw, ngejalanin agama adalah salah satu bentuk kepercayaan kita kepada Tuhan, terlepas dari gimana kita ngejalaninnya. Jadi kalo orang ga mau beragama, berarti dia ga mau ngeyakinin adanya Tuhan, walopun dia bilang percaya adanya Tuhan (dalam istilah agnostik disebut ‘divine presence’).
Percaya adanya Tuhan aja ga cukup. Kalo percaya Tuhan, berarti harus percaya juga tujuan Tuhan menciptakan makhluk”-Nya, percaya juga hukum Tuhan, karena gw yakin Tuhan ada dan Tuhan bikin hukum untuk dijalanin ama kita semua.
Selain itu, ada juga orang” yang beranggapan bahwa semua agama sama, dan menuju pada kebaikan. Itu betul, tapi kalo diyakini secara terbuka sama aja ga ngeyakinin agama apapun. Interpretasi agama yang berbeda” jangan dijadiin alesan kita buat ga memihak agama apapun. Sebagai makhluk yang meyakini adanya Tuhan, kita juga harus punya landasan buat tindakan” kita. Menurut gw, moralitas ga cukup buat jadi basis kita berbuat baik. Harus ada alesan yang lebih konkrit. Karena Tuhan ada di atas segala-galanya, maka hukum Tuhan lah yang harus dijadiin landasan. Silahkan pilih interpretasi hukum Tuhan yang paling benar menurut kalian, lalu jalani. Ga perlu mempertanyakan sana sini, karena agama itu sendiri pun ga sempurna, dan jelas bisa dipertanyakan.
Gw menghargai orang” yang ga pengen terikat ama agama, yang beranggapan semua agama sama, bahwa Tuhan tidak bisa ditalar. Tapi gw belum bisa ngejadiin itu landasan hidup gw. Gw masih butuh Tuhan buat jadi alesan gw hidup. Gw hidup karena Tuhan ada, dan gw harus berbakti untuk Tuhan. Simple kan?
Jadi masih perlu agama? Gw rasa masih.